Oleh: TEGAR DI ATAS SUNNAH | Agustus 22, 2011

Yuk kenali Ulama kita

*(diambil dari kotak pesan yang saya dapatkan dari grup Karim (Kajian Remaja Muslim di Facebook) hnya ingin skdar brbagi)

Para Ulama Ahlul Hadits
بسم الله الرحمن الرحيم

Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman sahabat hingga sekarang yang masyhur :

1. Khalifah ar-Rasyidin :
• Abu Bakr Ash-Shiddiq
• Umar bin Al-Khaththab
• Utsman bin Affan
• Ali bin Abi Thalib

2. Al-Abadillah :
• Ibnu Umar
• Ibnu Abbas
• Ibnu Az-Zubair
• Ibnu Amr
• Ibnu Mas’ud
• Aisyah binti Abubakar
• Ummu Salamah
• Zainab bint Jahsy
• Anas bin Malik
• Zaid bin Tsabit
• Abu Hurairah
• Jabir bin Abdillah
• Abu Sa’id Al-Khudri
• Mu’adz bin Jabal
• Abu Dzarr al-Ghifari
• Sa’ad bin Abi Waqqash
• Abu Darda’

3. Para Tabi’in :
• Sa’id bin Al-Musayyab wafat 90 H
• Urwah bin Zubair wafat 99 H
• Sa’id bin Jubair wafat 95 H
• Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H
• Muhammad bin Al-Hanafiyah wafat 80 H
• Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud wafat 94 H
• Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H
• Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq
• Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H
• Muhammad bin Sirin wafat 110 H
• Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H
• Nafi’ bin Hurmuz wafat 117 H
• Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H
• Ikrimah wafat 105 H
• Asy Sya’by wafat 104 H
• Ibrahim an-Nakha’iy wafat 96 H
• Aqamah wafat 62 H

4. Para Tabi’ut tabi’in :
• Malik bin Anas wafat 179 H
• Al-Auza’i wafat 157 H
• Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H
• Sufyan bin Uyainah wafat 193 H
• Al-Laits bin Sa’ad wafat 175 H
• Syu’bah ibn A-Hajjaj wafat 160 H
• Abu Hanifah An-Nu’man wafat 150 H

5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Setelah para tabi’ut tabi’in:
• Abdullah bin Al-Mubarak wafat 181 H
• Waki’ bin Al-Jarrah wafat 197 H
• Abdurrahman bin Mahdy wafat 198 H
• Yahya bin Sa’id Al-Qaththan wafat 198 H
• Imam Syafi’i wafat 204 H

6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :
• Ahmad bin Hambal wafat 241 H
• Yahya bin Ma’in wafat 233 H
• Ali bin Al-Madini wafat 234 H
• Abu Bakar bin Abi Syaibah Wafat 235 H
• Ibnu Rahawaih Wafat 238 H
• Ibnu Qutaibah Wafat 236 H

7. Kemudian murid-muridnya seperti:
• Al-Bukhari wafat 256 H
• Muslim wafat 271 H
• Ibnu Majah wafat 273 H
• Abu Hatim wafat 277 H
• Abu Zur’ah wafat 264 H
• Abu Dawud : wafat 275 H
• At-Tirmidzi wafat 279
• An Nasa’i wafat 234 H

8. Generasi berikutnya : orang-orang generasi berikutnya yang berjalan di jalan mereka adalah:
• Ibnu Jarir ath Thabary wafat 310 H
• Ibnu Khuzaimah wafat 311 H
• Muhammad Ibn Sa’ad wafat 230 H
• Ad-Daruquthni wafat 385 H
• Ath-Thahawi wafat 321 H
• Al-Ajurri wafat 360 H
• Ibnu Hibban wafat 342 H
• Ath Thabarany wafat 360 H
• Al-Hakim An-Naisaburi wafat 405 H
• Al-Lalika’i wafat 416 H
• Al-Baihaqi wafat 458 H
• Al-Khathib Al-Baghdadi wafat 463 H
• Ibnu Qudamah Al Maqdisi wafat 620 H

9. Murid-Murid Mereka :
• Ibnu Daqiq Al-led wafat 702 H
• Ibnu Taimiyah wafat 728 H
• Al-Mizzi wafat 742 H
• Imam Adz-Dzahabi (wafat 748 H)
• Imam Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H)
• Ibnu Katsir wafat 774 H
• Asy-Syathibi wafat 790 H
• Ibnu Rajab wafat 795 H

10. Ulama Generasi Akhir :
• Ash-Shan’ani wafat 1182 H
• Muhammad bin Abdul Wahhab wafat 1206 H
• Muhammad Shiddiq Hasan Khan wafat 1307 H
• Al-Mubarakfuri wafat 1427 H
• Abdurrahman As-Sa`di wafat 1367 H
• Ahmad Syakir wafat 1377 H
• Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh wafat 1389 H
• Muhammad Amin Asy-Syinqithi wafat 1393 H
• Muhammad Nashiruddin Al-Albani wafat 1420 H
• Abdul Aziz bin Abdillah Baz wafat 1420 H
• Hammad Al-Anshari wafat 1418 H
• Hamud At-Tuwaijiri wafat 1413 H
• Muhammad Al-Jami wafat 1416 H
• Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin wafat 1423 H
• Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i wafat 1423 H
• Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah
• Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah
• Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah

Sumber: Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama dengan sedikit tambahan.

##Para Ulama Salaf Lainnya##

Para Ulama Salaf Ahlul Hadits selain yang disebutkan diatas yang masyur dizamannya antara lain :

Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam (wafat 220H)
Ibnu Abi Syaibah (159-235 H)
Imam Asy Syaukani (172-250 H)
Imam al-Muzanniy (wafat 264H)
Imam Al Ajurri (190-292H)
Imam Al Barbahari (wafat 329 H)
Abdul Qadir Al Jailani (471-561 H)
Al-Hafidh Al Mundziri 581-656H
Imam Nawawi (631-676H)
Imam Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H)
Ibnu Hajar Al ‘Asqolani (773-852 H)
Imam As Suyuti (849-911 H)

Iklan
Oleh: TEGAR DI ATAS SUNNAH | Agustus 22, 2011

Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta

Love-cinta

Abdurrahman
Cinta. Kata yang dianggap suci ini semakin laris digunakan. Tema cinta seakan sebuah topik sakti untuk menyedot perhatian publik dan menarik simpati. Sayang, tak jarang kata yang dianggap suci ini digunakan untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah I.
 
 
 

Tema cinta memang selalu menarik perhatian. Sebuah kata yang kini lebih dominan bermakna rasa yang terjalin antara dua lawan jenis ini memiliki pengaruh yang dalam pada seseorang.

Dengan kata cinta pula, banyak dari kita merasa iba dan simpati kepada orang yang memilikinya. Sehingga, banyak dari kita tidak tega untuk memisahkan antara dua orang yang saling mencinta. Disayangkan, begitu banyak media -baik cetak maupun elektronik- memberikan pemahaman yang keliru mengenai cinta dan konsekuensinya. Tulisan-tulisan yang dibuat pun ikut andil dalam mencitrakan cinta melenceng dari seharusnya. Sehingga, tak jarang cinta yang sering dimaksud oleh orang-orang adalah cinta yang mengandung kemaksiatan.

Cinta dan Pacaran

Pacaran adalah perbuatan yang sudah lazim dilakukan pemuda sekarang. Padahal, menurut agama, pacaran adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan. Dalam sebuah ayat-Nya Allah berfirman:

Dan janganlah kalian dekati zina. Sesungguhnya itu adalah perbuatan keji dan jalan yang jelek.” [Q.S. Al-Isra` (Bani Isra`il):32].

Jika ada yang mengatakan, “Kan saya tidak berzina. Saya menjaga jarak dengan pacar saya agar tidak terjatuh ke dalam zina.” Jawabannya, hendaknya kita perhatikan bahwa Allah bukan hanya melarang untuk berzina. Dalam ayat ini Allah secara tegas melarang untuk mendekati zina. Mendekati zina mencakup bergandengan tangan, berduaan, bahkan bisa jadi hanya ber-SMS ria dengan lawan jenis sebagai pintu mendekati zina. Maka, semua jalan-jalan yang bisa menyampaikan kepada zina ini ditutup oleh syariat agar pemeluknya tidak terjatuh ke dalamnya.

Mengenai berduaan antara lawan jenis, Rasulullah ` telah melarang kita darinya dengan bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ، وَلاَ تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ

“Janganlah ada seorang lelaki berkhalwat (berduaan) dengan seorang perempuan dan janganlah seorang perempuan bepergian jauh kecuali dengan mahram.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Tidak hanya itu saja, banyak bahaya yang diakibatkan oleh pacaran ini.

Cinta dan Seks Bebas

Cinta sejati memerlukan pengorbanan. Kalimat ini benar, namun sayang seringkali mereka gunakan untuk membenarkan hal-hal yang sejatinya keliru. Sebagian orang yang berpacaran menganggap bahwa sex before marriage (seks sebelum menikah) adalah pengorbanan dan bukti cinta. Seseorang wanita yang berpacaran harus berani berkorban. Apa pengorbanannya? Yang dia korbankan adalah kesucian dan kehormatannya.

Subhanallah. Jika kita timbang dengan logika sehat yang kita miliki, seharusnya lelaki ini memberikan yang terbaik bagi pasangannya sebagai pengorbanannya. Misalnya, dia menikahinya dan memberikan nafkah yang layak. Bukan justru dengan merenggut kemuliaan wanita tersebut.

Ditambah lagi, banyak orang yang menganggap biasa perzinaan jika pelakunya adalah orang yang saling mencinta. Mereka menganggap bahwa zina suka sama suka adalah hak asasi manusia. Jika mereka mau sadar, sesungguhnya hak-hak manusia yang seperti ini justru akan menjerumuskan manusia ke dalam mafsadat yang semakin besar. Tidak jelasnya garis nasab, menyebarnya berbagai penyakit, dan dirugikannya pihak wanita adalah beberapa mafsadat yang bisa muncul kemudian. Belum lagi kerusakan dalam tingkat komunitas, berbangsa dan bernegara pada umumnya serta lingkungan sekitar pada khususnya. Faktanya, berita tentang pencabulan yang dilakukan oleh anak kecil, anak kecil menghamili wanita lain, dan berita-berita sejenis yang dahulu kita anggap nyleneh sudah semakin sering kita dapat, yang mana ini merupakan cerminan nyata betapa masyarakat kita sudah luntur adabnya.

Padahal, Allah memberikan ciri hamba-hamba Ar-Rahman, yang seharusnya menjadi ciri setiap hamba muslim:

“Dan mereka tidak menyeru bersama Allah sesembahan yang lain, mereka tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haknya, dan mereka tidak melakukan zina. Barangsiapa melakukannya, dia akan mendapatkan (balasan) dosa.*. Digandakan adzab baginya dan dia kekal di dalamnya dengan hina dina.” [Q.S. Al-Furqan:68-69].

Cinta dan Bunuh Diri

Akibat ‘cinta’ yang tidak kesampaian, banyak orang yang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya. Seakan, wanita atau pria yang dia cintai adalah satu-satunya makhluk di muka bumi ini. Hal ini, jika kita perhatikan dengan rasio yang sehat, tentu kita akan menilainya sebagai perbuatan yang konyol dan sia-sia. Banyak hal di dunia ini yang harus kita capai selain cinta. Selain itu, dari segi agama, bunuh diri merupakan dosa besar. Rasulullah ` bersabda, “Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi di tangannya, dia (akan) menikam perutnya di dalam neraka jahannam yang kekal, dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa yang meminum racun lalu bunuh diri dengannya, maka dia (akan) meminumnya perlahan-lahan di dalam neraka jahannam yang kekal, (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari atas gunung, dia akan jatuh ke dalam neraka jahannam yang kekal (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.” [H.R. Muslim dari Abu Hurairah z].

Di samping itu, jika kita singkap lebih dalam, akan kita ketahui bahwa kebanyakan cinta semacam ini adalah cinta yang tidak sehat. Cinta ini kebanyakannya adalah cinta yang didasari kemaksiatan kepada Allah I. Yakni, cinta antara dua orang non-mahram yang belum diikat dengan tali pernikahan.

Cinta dan Nikah Sesama Jenis

Menikah sesama jenis kini menjadi polemik panjang tentang kebolehannya. Sebagian pihak malah telah melakukan pernikahan yang [mereka anggap] sah antara dua orang yang sama jenisnya ini. Sebagiannya, berjuang menuntut dilegalkannya pernikahan sesama jenis di Indonesia dengan dalih HAM dan tetek bengeknya.

Keraguan ini banyak dimunculkan oleh sebagian pemuda yang mempelajari Islam dengan rasio terbalik. Mereka mengambil agama dari filosof-filosof kafir sekuler di Amerika. Sejatinya, cukuplah sebagai bantahan, bahwasanya fitrah kita pasti merasakan cinta kepada lain jenis. Hanya orang yang kehilangan fitrahnya sebagai manusia normal saja yang mencintai sesama jenis. Seandainya pun memang ada yang mengidap penyakit kelainan seksual dengan mencintai sesama jenis, hal itu masih bisa diobati dan diterapi. Tinggal seberapa keras usaha kita untuk keluar dari penyakit ini. Faktanya, beberapa pengidap penyakit ini berhasil melepaskan diri darinya dengan menikah. Nah, kenapa tidak dicoba?

Adapun jika masyarakat justru menghalalkan dan melegalkannya, cukuplah sebagai ibrah, kaum Nabi Luth, kaum Sodom, yang mereka diadzab dengan dibalikkankan bumi mereka dan dihujani dengan hujan batu saat kebanyakan dari mereka melakukan praktek homoseksual, dosa yang sama sekali belum pernah dilakukan oleh seorang pun di zaman sebelum mereka. Allah berfirman:

“Dan Nabi Luth yang mengatakan kepada kaumnya, ‘Apakah kalian mendatangi perbuatan keji yang tidak pernah dilakukan siapapun sebelumnya dari alam semesta ini?’” [Q.S. Al-A’raf:80]. Dan berfirman:

“Maka kami jadikan atasnya menjadi bawahnya dan kami hujankan kepada mereka batu yang keras.” [Q.S. Al-Hijr:74].

Kita berlindung kepada Allah dari adzab-Nya. Allahu a’lam bish shawab.

Oleh: TEGAR DI ATAS SUNNAH | Agustus 22, 2011

Meraih kebahagiaan Hakiki

Tak ada orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Semua orang ingin bahagia. Namun hanya sedikit yang mengerti arti bahagia yang sesungguhnya. Hidup bahagia merupakan idaman setiap orang, bahkan menjadi simbol keberhasilan sebuah kehidupan.
Tidak sedikit manusia yang mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Menggantungkan cita-cita menjulang setinggi langit dengan puncak tujuan tersebut adalah bagaimana hidup bahagia.
Hidup bahagia merupakan cita-cita tertinggi setiap orang baik yang mukmin atau yang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila kebahagian itu terletak pada harta benda yang bertumpuk-tumpuk, maka mereka telah mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Akan tetapi tidak dia dapati dan sia-sia pengorbanannya.
Apabila kebahagian itu terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, maka mereka telah siap mengorbankan apa saja yang dituntutnya, begitu juga teryata mereka tidak mendapatkannya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketenaran nama, maka mereka telah berusaha untuk meraihnya dengan apapun juga dan mereka tidak dapati. Demikianlah gambaran cita-cita hidup ingin kebahagiaan.
Apakah tercela orang-orang yang menginginkan demikian? Apakah salah bila seseorang bercita-cita untuk bahagia dalam hidup? Dan lalu apakah hakikat hidup bahagia itu? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban agar setiap orang tidak putus asa ketika dia berusaha menjalani pengorbanan hidup tersebut.

Hakikat Hidup Bahagia
Mendefinisikan hidup bahagia sangatlah mudah untuk diungkapkan dengan kata-kata dan sangat mudah untuk disusun dalam bentuk kalimat. Dalam kenyataannya telah banyak orang yang tampil untuk mendefinisikannya sesuai dengan sisi pandang masing-masing, akan tetapi mereka belum menemukan titik terang.
Ahli ekonomi mendefinisikannya sesuai dengan bidang dan tujuan ilmu perekonomian. Ahli kesenian mendefinisikannya sesuai dengan ilmu kesenian. Ahli jiwa akan mendefinisikannya sesuai dengan ilmu jiwa tersebut. Mari kita melihat bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tentang hidup bahagia.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Kamu tidak akan menemukan satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling cinta-mencinta kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan keluarga-keluarga mereka. Merekalah orang-orang yang telah dicatat dalam hati-hati mereka keimanan dan diberikan pertolongan, memasukkan mereka kedalam surga yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai dan kekal di dalamnya. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah. Ketahuilah mereka adalah (hizb) pasukan Allah dan ketahuilah bahwa pasukan Allah itu pasti menang”.(Al-Mujadilah:22)
Dari ayat ini jelas bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan orang-orang yang bahagia dan mendapatkan kemenangan di dunia dan di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir dan orang-orang yang menjunjung tinggi makna al-wala’ (berloyalitas) dan al-bara’ (kebencian) sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
As-Sa’di dalam tafsir beliau mengatakan: “Orang-orang yang memiliki sifat ini adalah orang-orang yang telah dicatat di dalam hati-hati mereka keimanan. Artinya Allah mengokohkan dalam dirinya keimanan dan menahannya sehingga tidak goncang dan terpengaruh sedikitpun dengan syubhat dan keraguan. Dialah yang telah dikuatkan oleh Allah dengan pertolongn-Nya yaitu menguatkanya dengan wahyu-Nya, ilmu dari-Nya, pertolongan dan dengan segala kebaikan.
Merekalah orang-orang yang mendapatkan kebagian dalam hidup di negeri dunia dan akan mendapatkan segala macam nikmat di dalam surga dimana di dalamnya terdapat segala apa yang diinginkan oleh setiap jiwa dan menyejukkan hatinya dan segala apa yang diinginkan dan mereka juga akan mendapatkan nikmat yang paling utama dan besar yaitu mendapatkan keridhaan Allah dan tidak akan mendapatkan kemurkaan selama – lamanya dan mereka ridha dengan apa yang diberikan oleh Rabb mereka dari segala macam kemuliaan, pahala yang banyak, kewibawaan yang tinggi dan derajat yang tinggi. Hal ini dikarenakan mereka tidak melihat yang lebih dari apa yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala”.
Abdurrahman As-Sa’di dalam mukadimah risalah beliau Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah hal. 5 mengatakan: “Sesungguhnya ketenangan dan ketenteraman hati dan hilangnya kegundahgulanaan darinya itulah yang dicari oleh setiap orang. Karena dengan dasar itulah akan didapati kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki”.
Allah berfirman:
“Barang siapa yang melakukan amal shalih dari kalangan laki-laki dan perempuan dan dia dalam keadaan beriman maka Kami akan memberikan kehidupan yang baik dan membalas mereka dengan ganjaran pahala yang lebih baik dikarenakan apa yang telah di lakukannya”.(An-Nahl: 97)
As-Sa’di dalam Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah halaman 9 mengatakan: “Allah memberitahukan dan menjanjikan kepada siapa saja yang menghimpun antara iman dan amal shalih yaitu dengan kehidupan yang bahagia dalam negeri dunia ini dan membalasnya dengan pahala di dunia dan akhirat”.
Dari kedua dalil ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebahagian hidup itu terletak pada dua perkara yang sangat mendasar : Kebagusan jiwa yang di landasi oleh iman yang benar dan kebagusan amal seseorang yang dilandasi oleh ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Kebahagian Yang Hakiki dengan Aqidah
Orang yang beriman kepada Allah dan mewujudkan keimanannya tersebut dalam amal mereka adalah orang yang bahagia di dalam hidup. Merekalah yang apabila mendapatkan ujian hidup merasa bahagia dengannya karena mengetahui bahwa semuanya datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan di belakang kejadian ini ada hikmah-hikmah yang belum terbetik pada dirinya yang dirahasiakan oleh Allah sehingga menjadikan dia bersabar menerimanya. Dan apabila mereka mendapatkan kesenangan, mereka bahagia dengannya karena mereka mengetahui bahwa semuanya itu datang dari Allah yang mengharuskan dia bersyukur kepada-Nya.
Alangkah bahagianya hidup kalau dalam setiap waktunya selalu dalam kebaikan. Bukankah sabar itu merupakan kebaikan? Dan bukankah bersyukur itu merupakan kebaikan? Di antara sabar dan syukur ini orang-orang yang beriman berlabuh dengan bahtera imannya dalam mengarungi lautan hidup. Allah berfirman;
“Jika kalian bersyukur (atas nikmat-nikmat-Ku ), niscaya Aku akan benar-benar menambahnya kepada kalian dan jika kalian mengkufurinya maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”.(Ibrahim: 7)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Dan tidaklah seseorang di berikan satu pemberian lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Kesabaran itu adalah Cahaya
Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kami menemukan kebahagian hidup bersama kesabaran”. ( HR. Al-Bukhari)
Mari kita mendengar herannya Rasululah terhadap kehidupan orang-orang yang beriman di mana mereka selalu dalam kebaikan siang dan malam:
“Sungguh sangat mengherankan urusannya orang yang beriman dimana semua urusannya adalah baik dan yang demikian itu tidak didapati kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya dan kalau dia ditimpa mudharat mereka bersabar maka itu merupakan satu kebaikan baginya”.
As-Sa’di rahimahullah mengatakan: ”Rasulullah memberitakan bahwa seorang yang beriman kepada Allah berlipat-lipat ganjaran kebaikan dan buahnya dalam setiap keadaan yang dilaluinya baik itu senang atau duka. Dari itu kamu menemukan bila dua orang ditimpa oleh dua hal tersebut kamu akan mendapatkan perbedaan yang jauh pada dua orang tersebut, yang demikian itu disebabkan karena perbedaan tingkat kimanan yang ada pada mereka berdua”. (Lihat Kitab Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah halaman 12).
Dalam meraih kebahagiaan dalam hidup manusia terbagi menjadi tiga golongan.
Pertama, orang yang mengetahui jalan tersebut dan dia berusaha untuk menempuhnya walaupun harus menghadapi resiko yang sangat dahsyat. Dia mengorbankan segala apa yang diminta oleh perjuangan tersebut walaupun harus mengorbankan nyawa. Dia mempertahankan diri dalam amukan badai kehidupan dan berusaha menggandeng tangan keluarganya untuk bersama-sama dalam menyelamatkan diri. Yang menjadi syi’arnya adalah firman Allah;
“Hai orang-orang yang beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”.(At-Tahrim: 6)
Karena perjuangan yang gigih tersebut, Allah mencatatnya termasuk kedalam barisan orang-orang yang tidak merugi dalam hidup dan selalu mendapat kemenangan di dunia dan di akhirat sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat Al- ‘Ashr 1-3 dan surat Al-Mujadalah 22. Mereka itulah orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan merekalah pemilik kehidupan yang hakiki.
Kedua, orang yang mengetahui jalan kebahagian yang hakiki tersebut namun dikarenakan kelemahan iman yang ada pada dirinya menyebabkan dia menempuh jalan yang lain dengan cara menghinakan dirinya di hadapan hawa nafsu. Mendapatkan kegagalan demi kegagalan ketika bertarung melawannya. Mereka adalah orang-orang yang lebih memilih kebahagian yang semu daripada harus meraih kebahagian yang hakiki di dunia dan di akhirat kelak. Menanggalkan baju ketakwaannya, mahkota keyakinannya dan menggugurkan ilmu yang ada pada dirinya. Mereka adalah barisan orang-orang yang lemah imannya.
Ketiga, orang yang sama sekali tidak mengetahui jalan kebahagiaan tersebut sehingga harus berjalan di atas duri-duri yang tajam dan menyangka kalau yang demikian itu merupakan kebahagian yang hakiki. Mereka siap melelang agamanya dengan kehidupan dunia yang fana’ dan siap terjun ke dalam kubangan api yang sangat dahsyat. Orang yang seperti inilah yang dimaksud oleh Allah dalm surat Al-‘Ashr ayat 2 yaitu “Orang-orang yang pasti merugi” dan yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 19 yaitu “ Partainya syaithon yang pasti akan merugi dan gagal”. Dan mereka itulah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam sabda beliau: Di pagi hari seseorang menjadi mukmin dan di sore harinya menjadi kafir dan di sore harinya mukmin maka di pagi harinya dia kafir dan dia melelang agamanya dengan harga dunia.
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, Di antaranya adalah kebahagian hidup dan kemuliaannya ada bersama keteguhan berpegang dengan agama dan bersegera mewujudkannya dalam bentuk amal shalih dan tidak bolehnya seseorang untuk menunda amal yang pada akhirnya dia terjatuh dalam perangkap syaithan yaitu merasa aman dari balasan tipu daya Allah subhanahu wa ta’ala. Hidup harus bertarung dengan fitnah sehingga dengannya ada yang harus menemukan kegagalan dirinya dan terjatuh pada kehinaan di mata Alllah dan di mata makhluk-Nya.
Wallahu A’lam.

(Dikutip dari http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=1)

Oleh: TEGAR DI ATAS SUNNAH | Agustus 22, 2011

Mengenal Islam Lebih Dekat

Mengenal Islam Lebih Dekat

green-xp-field-wallpapers_13999_1280x800

Kita patut bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Dia berikan kepada kita. Walaupun kita tidak akan mampu untuk membalasi nikmat-nikmat-Nya yang begitu banyak. Betapa banyak nikmat Allah yang telah kita lalaikan tanpa  disadari. Oleh sebab itulah Allah memerintahkan kita untuk banyak bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kalian mengkufuri (nikmat)-Ku.” [Q.S. Al-Baqarah:152].

Termasuk nikmat terbesar yang telah Allah anugerahkan kepada kita adalah nikmat mengenal Islam dan menjadi pemeluknya. Banyak orang yang tidak mendapatkan karunia ini, tidak mengetahui Islam, terlebih untuk tunduk memeluk agama ini.

Namun bagaimana seorang akan mensyukuri sesuatu apabila ia tidak menyadari bahwa perkara tersebut patut disyukuri. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita untuk terlebih dahulu mengetahui Islam ini supaya kita dapat mengamalkan Islam dengan benar dan mensyukurinya secara selaras dalam hati, lisan serta anggota badan.

Islam memiliki tiga esensi utama, ketiganya harus terpenuhi untuk tegak serta benarnya Islam seseorang. Tidak akan tegak salah satu darinya tanpa yang lain. Ketiga esensi itu adalah :

Yang Pertama: Mengesakan Allah Dengan Berserah Diri Hanya Kepada Allah

Seorang muslim adalah seseorang yang beriman bahwa Allah adalah satu-satunya yang mampu menciptakan mengatur serta memelihara alam. Tidak ada tandingan bagi Allah dalam kemampuan tersebut. Dia beriman pula bahwa hanya Allah yang berhak untuk diibadahi, dimintai, dan ditakuti. Yang mana, ini semua adalah konsekuensi atas keimanannya terhadap keesaan Allah dalam penciptaan, pengaturan dan pemeliharaan alam. Dia juga wajib beriman bahwa bagi-Nya lah seluruh nama-nama  dan sifat-sifat yang sempurna.

Seorang muslim adalah orang yang tidak akan memercayai bahwa ada yang bisa mengatur alam selain Allah, tidak pula berdoa dan meminta kepada selain Allah serta tidak memberikan sifat ketuhanan kepada selain Allah.

Yang Kedua: Tunduk Dan Patuh Dengan Menaati-Nya

Seorang muslim akan tunduk kepada Allah dengan menaati seluruh perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Ketundukan ini adalah konsekuensi dari pengakuannya akan keesaan Allah. Tidak akan didapati pada diri seorang yang berislam dengan benar keinginan untuk menyelisihi perintah Allah, terlebih untuk terang-terangan menentang-Nya. Sikap penentangan kepada Allah seperti ini hanya akan muncul dari orang yang tidak mengesakan-Nya. Bahkan, sikap penentangan terhadap Allah adalah salah satu sikap orang kafir dan munafik. Sebaliknya, sikap tunduk atas perintah dan larangan-Nya adalah ciri dari seorang muslim sejati.

Yang Ketiga: Berlepas Diri Dari Kesyirikan Dan Para Pelakunya

Kesyirikan adalah lawan dari tauhid, tidak akan bersatu dalam diri seseorang antara syirik dan tauhid. Seandainya seseorang bertauhid maka ia akan melenyapkan kesyirikan dan demikian sebaliknya. Ketika seseorang berkeyakinan bahwa Allah satu-satunya yang mengatur alam, maka ia tidak akan mensifati selain-Nya sebagai pengatur alam yang menandingi-Nya dalam pengaturan. Ketika ia memberikan ibadah hanya kepada Allah maka tentulah ia tidak akan memberikannya kepada selain-Nya dan demikian seterusnya. Sehingga seorang muslim adalah orang yang antipati dari segala bentuk kesyirikan baik yang besar maupun kesyirikan kecil semisal riya’. Ia adalah orang yang paling jauh dari menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya.

Selain membenci dan antipati terhadap kesyirikan, seorang muslim juga orang yang menghindari dan berlepas diri dari para pelaku kesyirikan tersebut serta dengan sungguh-sungguh memusuhinya. Allah ta’ala telah berfirman mengisahkan kepada kita sikap Nabi Ibrahim beserta orang-orang yang bersama beliau terhadap kesyirikan dan para pelakunya yang artinya, ”Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kalian dari daripada apa yang kalian sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara Kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” [Q.S.  Al-Mumtahanah:4].

Inilah esensi Islam, barangsiapa yang meyakininya, maka ia adalah seorang muslim. Oleh sebab itulah seluruh Nabi dan Rasul demikian pula para pengikut mereka adalah kaum yang berislam, karena mereka memiliki ketiga esensi Islam.

Allah pun memerintahkan Ibrahim untuk berislam(berserah diri) kepada Allah:

ﮛ  ﮜ  ﮝ    ﮞ  ﮟﮠ   ﮡ  ﮢ  ﮣ  ﮤ

“Ketika Rabbnya berfirman kepadanya, ‘Ber-Islam-lah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.”’ [Q.S. Al-Baqarah:131].

Allah juga berfirman yang artinya, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang ber-Islam (berserah diri) kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka.” [QS Al-Ma`idah:44].

Dalam sebuah hadits disebutkan pula bahwa seluruh Nabi memiliki keyakinan yang sama dalam akidah, tauhid, serta ketundukan mereka terhadap Allah. Namun, mereka berbeda dalam syariat sesuai yang Allah turunkan atas mereka. Rassulullah  bersabda yang artinya, “Para nabi adalah auladul ‘alat ibu mereka berbeda-beda akan tetapi agama mereka satu.” [H.R. Ahmad, Abu Dawud dari shahabat Abu Hurairah , dishahihkan Syaikh Al Albani  dalam Shahihul Jami’].

Auladul ‘alat adalah ibunya berbeda-beda dan bapaknya satu maksudnya sebagaimana yang disinggung Rasulullah  sendiri bahwa keimanan mereka satu adapun hukum-hukum syariat mereka berbeda. Demikian penjelasan Ibnul Atsir  dalam An Nihayah fi Gharibil Atsar.

Inilah makna Islam dalam artian umum, adapun Islam dalam artian khusus adalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad . Di mana seseorang tidak dikatakan menjadi pemeluk Islam sampai ia mau beriman dengan seluruh apa yang dibawa oleh Rasulullah  serta tunduk dengan seluruh syariatnya. Ini adalah Islam yang menyempurnakan syariat yang datang sebelumnya. Satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah. Rasullullah  bersabda yang artinya, “Demi Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, pemeluk Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia  mati dan tidak mau beriman terhadap apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk dari penduduk neraka.” [H.R. Muslim dari shahabat Abu Hurairah ].

Allah berfirman di dalam kitab-Nya:

“Barangsiapa menginginkan selain Islam sebagai agama, maka tidaklah hal itu diterima darinya dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.” [Q.S. Ali Imran:85]. Allahu a’lam. [hammam].

sumber :  http://www.tashfiyah.net

Oleh: TEGAR DI ATAS SUNNAH | Agustus 22, 2011

Hikmah Penciptaan Manusia

Oleh: TEGAR DI ATAS SUNNAH | Agustus 19, 2011

Untuk Pemuda : Sembuhlah dari Onani

Untuk Pemuda : Sembuhlah dari Onani

onani

Agar Sembuh ONANI (Ayo, Kamu Bisa)

Onani dan masturbasi. Dua kata yang tabu disebutkan oleh orang yang masih memiliki fitrah di dalam dirinya.  Bagi kamu yang sudah ‘ketagihan’, dengan kemauan, usaha, dan kerja keras yang tinggi, kamu pasti bisa keluar dari masalah ini.

Kamu mau kan dipanggil sebagai seorang mukmin. Nah, di antara ciri seorang mukmin adalah yang Allah sebutkan dalam Surat Al-Mu`minun ayat 5-7:

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,(*) Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.(*). Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.”[Q.S. Al Mukminun 5-7].

Sebagian ulama menjadikan ayat di atas sebagai landasan diharamkannya onani dan masturbasi. Karena, orang yang melakukan onani dan masturbasi termasuk mencari selain yang Allah telah halalkan. Yang berarti telah melampaui batas sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Imam Asy-Syafi’i, Imam Malik, dan ulama lainnya berdalil dengan ayat ini tentang diharamkannya onani. Hal ini juga disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya. (Adhwa`ul Bayan)

Nah, buat kamu yang sudah terlanjur ‘ketagihan’ melakukannya, kami sebutkan beberapa hal yang bisa kamu lakukan buat meredakan ‘dorongan jiwa’ ini. Terapi yang ditempuh untuk menghilangkan kebiasaan haram ini di antaranya adalah:

  1. Bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Merasa senantiasa diawasi oleh Allah di mana pun berada, di kamar tidur, kamar mandi, dan di semua tempat. Seluruh aktivitas kamu nggak ada yang tersembunyi bagi Allah. Semua yang kamu lakukan akan dicatat, lalu kamu akan dapati seluruh amalannya tercatat dalam catatan amal. Allah berfirman yang artinya, “Dan diletakkanlah catatan amal, lalu engkau akan melihat orang-orang yang berbuat dosa takut terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai celaka Kami, kenapa kitab ini tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan. dan Rabbmu tidak menzalimi seorang pun”.[Q.S. Al-Kahfi:49].
  2. Menikahlah. Onani dan masturbasi disebabkan dorongan syahwat yang kuat. Jadi, bagi yang mampu menikah, menikahlah. Lagipula, menikah itu banyak banget untungnya lho.
  3. Kalau belum mampu menikah, lemahkan syahwat kamu dengan puasa. Untuk poin dua dan tiga ini, Rasulullah bersabda dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ibnu Mas’ud z yang artinya, ”Wahai para pemuda, siapa yang mampu menikah, maka menikahlah. Adapun yang belum mampu berpuasalah, sesungguhnya puasa adalah tameng baginya.”
  4. Sibukkan diri kamu dengan kegiatan yang bermanfaat, amal shalih, bekerja, belajar, olah raga, dan yang lainnya. Jangan banyak melamun atau kosong dari amal shalih.
  5. Cari teman baik yang bisa mengingatkan dan menasehati.
  6. Hindari pemicu syahwat, seperti ikhtilat (campur baur lawan jenis), tidak menjaga pandangan dan yang lainnya.
  7. Berdoa kepada Allah, memohon kepada-Nya untuk mengilangkan kebiasaan buruk ini. Plus, berusaha sekuat tenaga agar tidak terjerumus ke dalam maksiat ini.
  8. Jangan pernah memandang remeh satu dosa pun. Al-Qadhi ‘Iyadh v mengatakan, “Ketika engkau meremehkan dosa, ketika itu pula akan besar di sisi Allah. Ketika engkau menganggap besarnya dosa, ketika itu pula akan menjadi kecil di sisi Allah.” Tumbuhkan rasa takut kepada Allah. Abdullah bin Masud z mengatakan, “Seorang mukmin melihat dosanya seolah-olah seperti melihat gunung yang khawatir akan runtuh menimpanya. Adapun seorang pendosa melihat dosanya seolah lalat yang hinggap pada hidungnya, ia kipaskan begitu saja dan terbang”. [Riwayat Al-Bukhari dan Muslim].
  9. Catat dan ingat-ingat ucapan Nabi ` ini, “Siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya.” [H.R. Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani v dengan disandarkan kepada Imam Ahmad]. Pengen dong yang lebih daripada kesenangan ‘sekejap’ yang langsung lenyap.
  10. Jangan menyerah, selalu semangat dan minta pertolongan kepada Allah. Rasulullah ` bersabda, ”Bersemangatlah dalam setiap yang bermanfaat bagimu dan mintalah selalu pertolongan Allah, jangan lemah.” [H.R. Muslim dari sahabat Abu Hurairah z].
  11. Coba kamu renungkan, Allah telah menciptakan kamu, memberikan segala fasilitas buat kamu, melimpahkan nikmat-Nya lahir dan batin. Allah ta’ala berfirman, “Tidakkah kalian perhatikan bahwasanya Allah telah menundukkan untuk kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” [Q.S. Luqman:20]. Kenapa justru kamu balas dengan maksiat?
  12. Poin terakhir, kami ingatkan, semakin besar dan berat usaha kamu, semakin besar pula pahalanya di sisi Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, dari Aisyah x, Rasulullah ` bersabda yang artinya, ”Sesungguhnya balasanmu sesuai dengan kadar keletihanmu.”

Ayo berjuang, kamu bisa, insya Allah. Allahu a’lam. [Farhan]

Sumber :www.tashfiyah.net

Oleh: TEGAR DI ATAS SUNNAH | Agustus 19, 2011

Apa Cita-Citamu ?

Apa Cita-Citamu ?

CITA-CITA

 

 

LIBURAN SEKOLAH. Bagi yang sudah lulus sekolahnya, sekarang mulai memikirkan  mau melanjutkan kemana. Mau kuliah ? kerja masuk pesantren ? atau masuk militer? Masing-masing pilihan merupakan sarana untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.

Setiap manusia pasti memiliki cita-cita. Bila tidak, tentu dia tidak memiliki semangat hidup. Waktu kecil, ketika kita ditanyai “Mau jadi apa?” Kebanyakan dari kita biasanya menjawab, “Mau jadi tentara, mau jadi dokter, mau jadi presiden, dll” . Dalam perkembangannya, karena pengaruh pengetahuan yang semakin berkembang, cita-cita pun berubah. Anak kecil mungkin akan berubah-ubah jawabannya ketika ditanya apa cita-citanya. Beda dengan orang dewasa yang jawabannya mantap tak berubah. Kok bisa? Ya, karena cita-cita merupakan gabungan dari kemampuan dan pandangan hidup seseorang.

Anak kecil, yang kemampuannya masih berkembang dengan cepat, tentu saja cita-citanya berkembang sesuai kemampuannya. Beda dengan orang dewasa, yang sudah mulai bisa mengukur bakat dan kemampuannya, sehingga benar-benar mengerti apa yang ingin dan bisa ia capai.

Namun, kita juga sering menemui orang yang sudah cukup berumur, namun hidupnya luntang-lantung tidak jelas. Kalau ditanya mau jadi apa, jawabannya, “pingin jadi orang kaya”. Sungguh jawaban yang menggelikan, ingin menjadi orang kaya tetapi tidak berusaha bekerja dengan baik. Dari sini kita bisa melihat bahwa tidak semua orang yang memiliki cita-cita bisa menggapainya. Tergantung dari usaha yang dilakukannya (tentunya setelah melalui ketetapan  Allah).

 

Cita-Cita Seorang Muslim

Lalu apakah cita-cita seorang muslim? Dan bagaimana usaha untuk menggapainya? Allah  berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” [QS. Ali Imran : 102]

Saudaraku…

Kita semua bukanlah hamba uang, bukan hamba ketenaran, bukan pula hamba nafsu kita sendiri. Kita semua adalah hamba Allah . Konsekuensi kita sebagai hamba (budak) adalah kita wajib melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh pemilik kita, yaitu Allah.  Dan cita-cita tertinggi bagi seorang hamba Allah adalah ia bertemu Allah dalam keadaan muslim, kemudian ia memperoleh rahmat-Nya untuk masuk ke surga-Nya.

Jika begitu, sudah semestinya seorang muslim menjadikan cita-citanya di dunia sebagai sarana untuk mencapai cita-cita tertinggi di akhirat. Misalnya kamu ingin menjadi ahli pemrograman komputer. Maka niatkanlah belajar komputer bukan hanya untuk bekerja mendapatkan uang, namun juga sebagai sarana untuk meningkatkan produktifitas dan memudahkan kaum muslimin dalam bekerja. Dan juga -semoga Allah  memudahkanmu- berusahalah agar kemampuanmu itu bisa digunakan untuk berdakwah (misal dengan membuat website dakwah, program penghitungan zakat, dll). Niatkanlah semua perbuatan yang kita lakukan sebagai ibadah kepada Allah . Rasulullah  `mengajarkan,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. [HR. Bukhori dan Muslim dari shahabat Umar bin Khaththab ]

Tidak Cukup Hanya Belajar Ilmu Dunia

Namun, untuk menggapai cita-cita akhirat, tidak cukup hanya dengan belajar ilmu dunia. Kita juga harus belajar ilmu agama secara sungguh-sungguh. Kita harus mempelajari Apa sih tauhid itu? Apa syirik itu? Lalu bagaimana dengan cara-cara ibadah rutin harian kita? Itu tidak boleh kita tinggalkan. Silahkan kamu belajar komputer, namun kewajiban belajar ilmu agama tidak boleh ditinggalkan.

Kamu mungkin berpikir, “Wah, ngapain serius belajar agama. Saya nggak mau jadi ustadz kok, saya  mau jadi programmer !”

Saudaraku….belajar agama bukan hanya untuk mereka yang akan menjadi ustadz. Kita belajar agama karena kita membutuhkannya setiap hari, bahkan setiap detik. Sebagai contoh cara kita shalat. Apakah shalat kita sudah benar? Sudah sesuai tuntunan Rasulullah ? Sudahkah kita mengerti bacaan shalat kita? Jangan sampai kita membaca sholat hanya was-wes-wos, asal baca namun tidak tahu artinya. Bagaimana sholat bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, jika kita tidak tahu artinya?

Itu tadi baru contoh kecil, bagaimana kita benar-benar membutuhkan ilmu agama dalam setiap tarikan napas kita. Karena setiap tujuan pasti membutuhkan jalan. Jalan untuk menjadi ahli komputer dengan belajar komputer. Jalan untuk menjadi dokter, tentu dengan belajar ilmu kedokteran. Jalan untuk masuk surga tentu saja dengan belajar agama.

 

Kita Pasti Akan Mati

Kalau kita hidup selamanya di dunia, kita bisa saja hanya belajar ilmu dunia. Tapi itu mustahil, karena setiap manusia pasti akan mati. Sehingga, hanya bercita-cita menjadi dokter, insinyur, atau yang lainnya tentu bukanlah pilihan yang bijak. Berusahalah untuk selalu bersungguh-sungguh dalam belajar, baik dalam belajar ilmu dunia, maupun ilmu akhirat. Apabila engkau merasa bosan dalam belajar, maka ingatlah kembali  tujuanmu dalam belajar, ”Apa cita-cita kita di dunia dan di  akhirat ?”

Semoga Allah  memudahkan kita untuk mencapai cita-cita kita.

“Bersungguh-sungguhlah mengupayakan apa-apa yang bermanfaat untukmu, memohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah” [ H.R. Muslim dari shahabat Abu Hurairah ]

Wallahu a’lam bish shawab. (Ristyandani)

Sumber : http://www.tashfiyah.net

Oleh: TEGAR DI ATAS SUNNAH | Agustus 19, 2011

Pembunuh 100 Jiwa

Pembunuh 100 Jiwa

belati

Dalam lembaran kitab hadits banyak sekali kita temukan kisah-kisah penuh hikmah yang dituturkan oleh Rasulullah . Inilah hikmah dakwah beliau, bagusnya pendidikan beliau. Karena dengan menyebutkan kisah nyata, orang cenderung tertarik dan mudah mencerna untuk mencontohnya. Salah satunya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahihnya, dari shahabat Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al Khudri , Rasulullah  mengisahkan bahwa pada umat terdahulu ada orang yang telah membunuh 99 jiwa. Orang ini bertanya-tanya siapakah manusia yang paling berilmu di atas dunia ini. Ia ingin bertaubat namun tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Di sinilah pentingnya seorang yang berilmu yang senantiasa membimbing manusia kepada hidayah, rahmat dan ampunan Allah ta’ala. Seorang berilmu di tengah manusia ibarat pelita dalam gulita.

Pembunuh ini ditunjukkan kepada rahib, seorang ahli ibadah. Ia pun lantas mendatangi dan bertanya kepada si rahib apakah taubatnya bisa diterima. Tanpa landasan ilmu si rahib menjawab ‘tidak’. Maka dibunuhlah si rahib karena jawabannya sehingga lengkap 100 jiwa yang dibunuh. Inilah hukuman yang Allah segerakan di dunia bagi orang yang berkata atas nama agama tanpa ilmu. Sebuah dosa besar yang Allah sebutkan setelah kesyirikan. Allah berfirman:

“Katakanlah, “Rabbku hanyalah mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengatakan atas Allah apa yang tidak kalian ketahui.” [Q.S. Al A’raf:33]. Imam Ibnul Qayyim  menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah ta’ala mengurut dosa dari yang teringan. Sehingga dosa yang disebutkan terakhir adalah yang paling besar. Kita berlindung kepada Allah dari dosa-dosa ini.

Setelah pembunuh ini terus mencari, ditunjukkanlah kepada seorang yang berilmu. Si pembunuh menceritakan kisahnya yang telah membunuh 100 jiwa. Ia meminta solusi kepada orang alim tersebut tentang taubat yang harus ia lakukan. Sang alim membimbingkan untuk meninggalkan daerahnya yang jelek menuju daerah yang masyarakatnya masih di atas fitrah, beribadah kepada Allah Ta’ala saja. Karena lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap agama seseorang. Bahkan, Allah Yang Maha Mengetahui memerintahkan Nabi-Nya untuk memilih lingkungan yang baik. Allah berfirman yang artinya, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [Q.S. Al Kahfi:28]. Karena itu, sang alim menyarankan agar si pembunuh tinggal bersama orang yang shalih agar bisa benar-benar mewujudkan taubatnya dan beribadah kepada Allah ta’ala semata. Dari kisah ini kita mendapat pelajaran pula tentang disyariatkannya bagi orang yang bertaubat untuk meninggalkan seluruh kondisi dan kebiasaan yang dahulu dilakukan.

Pembunuh yang bulat tekad untuk bertaubat ini pun melaksanakan nasehat sang alim. Berangkatlah ia menuju daerah yang lingkungannya baik tersebut. Namun di tengah jalan, maut menjemputnya. Ia meninggal dunia menghadap kepada Allah Yang Maha Tinggi dengan hanya membawa niat yang jujur, niatan untuk menjadi baik dan berbuat baik. Rasulullah  mengisahkan bahwa malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih memperebutkan ruh orang ini. Malaikat rahmat mengatakan, “Ia menghadap dalam keadaan bertaubat dengan sepenuh hati kepada Allah ta’ala.”  Malaikat azab menyahut, “Tetapi ia belum pernah melakukan kebaikan sama sekali.” Di saat itulah datang seorang malaikat dalam wujud manusia yang mereka jadikan sebagai hakim untuk memutuskan perselisihan mereka. Maka diputuskan untuk mengukur jarak antara dua daerah, yaitu daerah asal dan daerah yang dituju, manakah yang lebih dekat dengan tempat tersebut. Setelah diukur, ternyata lebih dekat kepada daerah yang dituju, diambillah ruh tersebut oleh malaikat rahmat.

Demikianlah, siapa yang niatnya jujur dan berusaha sekuat tenaga untuk berhijrah kepada Allah ta’ala maka ia pasti akan mendapatkan pahala, walaupun ia belum pernah mengamalkan amalan shalih selain niatnya yang jujur. Allah ta’ala pun pasti akan menolong dan membimbing orang yang demikian ini. Sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat lain bahwa Allah ta’ala memerintahkan kepada daerah yang jelek penduduknya untuk menjauh dari pembunuh ini, dan mewahyukan daerah yang baik untuk mendekat. Sehingga setelah diukur jadilah daerah yang shalih lebih dekat dengan selisih satu jengkal, kemudian Allah ta’ala mengampuninya.

Dalam riwayat yang lain pula disebutkan bahwa ketika maut menjemput, orang ini tetap berusaha merayap mendekat daerah yang shalih dengan dadanya. Ini sesuai dengan janji Allah dalam salah satu ayat-Nya yang artinya, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [Q.S. Al Ankabut:69]. Dan inilah rahmat dan kasih sayang Allah ta’ala Yang Maha Luas. Bahwa Allah ta’ala mengampuni dosa apa pun bagi yang bertaubat dengan sungguh-sungguh. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka itu akan diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” [Q.S. Al Furqan:70,71].

Kisah dalam hadits ini juga menunjukkan kepada kita bahwa amalan itu tergantung pada penutupnya. Siapa yang sepanjang umurnya terjatuh dalam kemaksiatan, kemudian di penghujung umurnya ia bertaubat atas taufik dan hidayah dari Allah, Allah ta’ala pasti akan mengampuninya. Sebaliknya, siapa yang selalu berbuat kebaikan, tetapi di akhir kehidupannya ia bermaksiat kepada Allah, maka amalannya sesuai penutupnya. Rasulullah  menegaskan, “Hanyalah amalan itu sesuai penutupnya.” [H.R. Al Bukhari dari shahabat Sahl bin Saad ]. Semoga Allah ta’ala senantiasa mengaruniakan kepada kita semua nikmat istiqomah sehingga menghadap kepada-Nya dengan husnul khatimah. Amin. Allahu a’lam. [farhan]

sumber: http://www.tashfiyah.net

Oleh: TEGAR DI ATAS SUNNAH | Agustus 19, 2011

DEBAT TANPA ILMU

DEBAT TANPA ILMU

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan di hari kiamat. Kami merasakan kepadanya adzab neraka yang membakar. (Akan dikatakan kepadanya): ‘Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya’.” (Al-Hajj: 8-10)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

ËóÇäöíó ÚöØúÝöåö

“Memalingkan lambung atau lehernya.” Ini merupakan gambaran bahwa dia tidak menerima dan berpaling dari sesuatu.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Ia menyombongkan diri dari kebenaran jika diajak kepadanya.”

Mujahid, Qatadah, dan Malik dari Zaid bin Aslam mengatakan: “Memalingkan lehernya, yaitu berpaling dari sesuatu yang dia diajak kepadanya dari kebenaran, karena sombong.” Seperti firman-Nya:

æóÝöí ãõæúÓóì ÅöÐú ÃóÑúÓóáúäóÇåõ Åöáóì ÝöÑúÚóæúäó ÈöÓõáúØóÇäò ãõÈöíúäò. ÝóÊóæóáøóì ÈöÑõßúäöåö æóÞóÇáó ÓóÇÍöÑñ Ãóæú ãóÌúäõæúäñ

“Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mukjizat yang nyata. Maka dia (Fir’aun) berpaling (dari keimanan) bersama tentaranya, dan berkata: ‘Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila’.” (Adz-Dzariyat: 38-39)

Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullahu berkata: “Yang benar dari penafsiran tersebut adalah dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala ini tanpa ilmu, bahwa itu karena kesombongannya. Jika diajak kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia berpaling dari yang mengajaknya, sambil memalingkan lehernya dan tidak mau mendengar apa yang dikatakan kepadanya dengan berlaku sombong.” (Tafsir At-Thabari)

áöíõÖöáøó

“Untuk menyesatkan.” Ada yang mengatakan bahwa huruf lam dalam ayat ini adalah menjelaskan tentang akibat. Maknanya yaitu yang berakibat dia menyesatkan (manusia) dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Qurthubi rahimahullahu dalam tafsirnya. Adapula yang mengatakan bahwa huruf lam tersebut sebagai ta’li, yang berarti bertujuan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi)

Penjelasan Makna Ayat

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu tatkala menjelaskan ayat ini, mengatakan:

“Perdebatan tersebut bagi seorang muqallid (yang mengikuti satu perkataan tanpa dalil). Perdebatan ini berasal dari setan yang jahat yang menyeru kepada berbagai bid’ah. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa dia mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara mendebat para rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para pengikutnya dengan cara yang batil dalam rangka menggugurkan kebenaran, tanpa ilmu yang benar dan petunjuk. Dia tidak mengikuti sesuatu yang membimbingnya dalam perdebatannya itu. Tidak dengan akal yang membimbing dan tidak pula dengan seseorang yang diikuti karena hidayah. Tidak pula dengan kitab yang bercahaya, yaitu yang jelas dan nyata. Dia tidak memiliki hujjah baik secara aqli maupun naqli, namun hanya sekedar menampilkan syubhat-syubhat yang dibisikkan oleh setan kepadanya. (Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman):

æóÅöäøó ÇáÔøóíóÇØöíúäó áóíõæúÍõæúäó Åöáóì ÃóæúáöíóÇÆöåöãú áöíõÌóÇÏöáõæúßõãú

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (Al-An’am: 121)

Bersamaan dengan itu, dia memalingkan lambung dan lehernya. Ini merupakan gambaran tentang kesombongannya dari menerima kebenaran serta menganggap remeh makhluk yang lain. Dia merasa bangga dengan apa yang dia miliki berupa ilmu yang tidak bermanfaat, serta meremehkan orang-orang yang berada di atas kebenaran dan al-haq yang mereka miliki. Akibatnya, dia menyesatkan manusia, yaitu dia termasuk ke dalam penyeru kepada kesesatan. Termasuk dalam hal ini adalah semua para pemimpin kufur dan kesesatan. Lalu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menyebutkan hukuman yang mereka dapatkan di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

áóåõ Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ ÎöÒúíñ

“baginya di dunia kehinaan.” Yaitu, dia akan menjadi buruk di dunia sebelum di akhirat.

Dan ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menakjubkan, di mana tidaklah engkau mendapati seorang da’i yang menyeru kepada kekafiran dan kesesatan melainkan dia akan dimurkai di jagad raya ini. Ia mendapatkan laknat, kebencian, celaan, yang berhak ia peroleh. Setiap mereka tergantung keadaannya.

æóäõÐöíúÞõåõ íóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö ÚóÐóÇÈó ÇáúÍóÑöíúÞö

“Dan Kami akan merasakan kepadanya pada hari kiamat adzab neraka yang membakar.”

yaitu Kami akan menjadikan dia merasakan panasnya yang dahsyat dan apinya yang sangat panas. Hal itu disebabkan apa yang telah dia amalkan. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berlaku dzalim terhadap hamba-hamba-Nya. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang sesat yang jahil dan hanya bertaqlid dalam firman-Nya:

æóãöäó ÇáäøóÇÓö ãóäú íõÌóÇÏöáõ Ýöí Çááåö ÈöÛóíúÑö Úöáúãò æóíóÊøóÈöÚõ ßõáøó ÔóíúØóÇäò ãóÑöíúÏò

“Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat.” (Al-Hajj: 3)

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut dalam ayat ini keadaan para penyeru kepada kesesatan dari tokoh-tokoh kekafiran dan kesesatan. Yaitu, di antara manusia ada yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tanpa ilmu, tanpa hidayah, dan tanpa kitab yang bercahaya, yaitu tanpa akal sehat dan tanpa dalil syar’i yang benar dan jelas. Namun hanya sekedar akal dan hawa nafsu. (Tafsir Ibnu Katsir)

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang siapa yang dimaksud dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah An-Nadhr bin Al-Harits dari Bani Abdid Dar, tatkala dia berkata bahwa para malaikat ini merupakan anak-anak perempuan Allah. Adapula yang mengatakan yang dimaksud adalah Abu Jahl bin Hisyam, dan ada lagi yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Al-Akhnas bin Syuraiq. Namun ayat ini mencakup setiap yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berakibat menolak kebenaran dan menjauhkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dia orang kafir, munafik, atau dari kalangan ahli bid’ah.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tatkala beliau menjelaskan makna “ia memalingkan lehernya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah”: “Dia adalah ahli bid’ah.” (lihat Tafsir Al-Qurthubi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tanpa ilmu” ini merupakan celaan terhadap setiap orang yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ilmu. Juga merupakan dalil yang menunjukkan bolehnya (berdebat) bila dengan ilmu, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibrahim ‘alaihissalam dengan kaumnya.” (Majmu’ Fatawa, 15/267)

Berdebat, antara yang Boleh dan yang Terlarang

Terdapat nash-nash yang menjelaskan tentang tercelanya berdebat dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ãóÇ íõÌóÇÏöáõ Ýöí ÂíóÇÊö Çááåö ÅöáÇøó ÇáøóÐöíúäó ßóÝóÑõæÇ ÝóáÇó íóÛúÑõÑúßó ÊóÞóáøõÈõåõãú Ýöí ÇáúÈöáÇóÏö

“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.” (Ghafir: 4)

dan firman-Nya:

Åöäøó ÇáøóÐöíúäó íõÌóÇÏöáõæúäó Ýöí ÂíóÇÊö Çááåö ÈöÛóíúÑö ÓõáúØóÇäò ÃóÊóÇåõãú Åöäú Ýöí ÕõÏõæúÑöåöãú ÅöáÇøó ßöÈúÑñ ãóÇ åõãú ÈöÈóÇáöÛöíúåö ÝóÇÓúÊóÚöÐú ÈöÇááåö Åöäøóåõ åõæó ÇáÓøóãöíúÚõ ÇáúÈóÕöíúÑõ

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Ghafir: 56)

Telah diriwayatkan dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ÃóÈúÛóÖõ ÇáÑøöÌóÇáö Åöáìó Çááåö ÇúáÃóáóÏøõ ÇáúÎóÕöãõ

“Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka berdebat.” (Muttafaq Alaihi)

Juga dari hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ãóÇ Öóáøó Þóæúãñ ÈóÚúÏó åõÏðì ßóÇäõæÇ Úóáóíúåö ÅöáÇøó ÃõæúÊõæÇ ÇáúÌóÏóáó. Ëõãøó ÊóáÇó ÑóÓõæúáõ Çááåö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó åóÐöåö ÇúáÂíóÉó: {ãóÇ ÖóÑóÈõæúåõ áóßó ÅöáÇøó ÌóÏóáÇð Èóáú åõãú Þóæúãñ ÎóÕöãõæúäó}

“Tidaklah tersesat satu kaum setelah mendapatkan hidayah yang dahulu mereka di atasnya, melainkan mereka diberi sifat berdebat.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ãóÇ ÖóÑóÈõæúåõ áóßó ÅöáÇøó ÌóÏóáÇð Èóáú åõãú Þóæúãñ ÎóÕöãõæúäó

“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58) [HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ no. 5633]

Abdurrahman bin Abiz Zinad berkata: “Kami mendapati orang-orang yang mulia dan ahli fiqih -dari orang-orang pilihan manusia- sangat mencela para ahli debat dan yang mendahulukan akalnya. Dan mereka melarang kami bertemu dan duduk bersama orang-orang itu. Mereka juga memperingatkan kami dengan keras dari mendekati mereka.” (lihat Al-Ibanah Al-Kubra 2/532, Mauqif Ahlis Sunnah, Asy-Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili 2/591)

Demikian pula Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan: “Pokok-pokok ajaran As-Sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh di atas metode para sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti mereka, dan meninggalkan bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan meninggalkan pertengkaran serta duduk bersama pengekor hawa nafsu, juga meninggalkan dialog dan berdebat serta bertengkar dalam agama ini.” (Syarh Al-Lalika`i, 1/156, Mauqif Ahlis Sunnah, Ar-Ruhaili 2/591)

Wahb bin Munabbih rahimahullahu berkata: “Tinggalkan perdebatan dari perkaramu. Karena sesungguhnya engkau tidak akan terlepas dari menghadapi salah satu dari dua orang: (1) orang yang lebih berilmu darimu, lalu bagaimana mungkin engkau berdebat dengan orang yang lebih berilmu darimu? (2) orang yang engkau lebih berilmu darinya, maka bagaimana mungkin engkau mendebat orang yang engkau lebih berilmu darinya, lalu dia tidak mengikutimu? Maka tinggalkanlah perdebatan tersebut!” (Lammud Durr, karangan Jamal Al-Haritsi hal. 158)

Namun di samping dalil-dalil yang melarang berdebat tersebut di atas, juga terdapat nash-nash lain yang menunjukkan kebolehannya. Di antara yang menunjukkan bolehnya berdebat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ÇÏúÚõ Åöáóì ÓóÈöíúáö ÑóÈøößó ÈöÇáúÍößúãóÉö æóÇáúãóæúÚöÙóÉö ÇáúÍóÓóäóÉö æóÌóÇÏöáúåõãú ÈöÇáøóÊöí åöíó ÃóÍúÓóäõ Åöäøó ÑóÈøóßó åõæó ÃóÚúáóãõ Èöãóäú Öóáøó Úóäú ÓóÈöíúáöåö æóåõæó ÃóÚúáóãõ ÈöÇáúãõåúÊóÏöíúäó

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan beberapa kisah debat antara Rasul-Nya dengan orang-orang kafir. Seperti kisah Ibrahim ‘alaihissalam yang mendebat kaumnya. Demikian pula debat Nabi Musa ‘alaihissalam dengan Fir’aun, dan berbagai kisah lainnya yang disebutkan dalam Al-Qur`an. Demikian pula dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan perdebatan antara Nabi Adam dan Musa ‘alaihissalam, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Banyak dari kalangan imam salaf mengatakan: Debatlah kelompok Al-Qadariyyah dengan ilmu, jika mereka mengakui maka mereka membantah (pemikiran mereka sendiri). Dan jika mereka mengingkari, maka sungguh mereka telah kafir.”

Demikian pula banyak terjadi perdebatan di kalangan ulama salaf, seperti yang terjadi antara ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu dengan Ghailan Ad-Dimasyqi Al-Qadari, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang mendebat kelompok Khawarij, Al-Auza’i rahimahullahu yang berdebat dengan seorang qadari (pengikut aliran Qadariyyah), Abdul ‘Aziz Al-Kinani rahimahullahu dengan Bisyr bin Ghiyats Al-Marisi Al-Mu’tazili, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dengan para tokoh ahli bid’ah, serta yang lainnya, yang menunjukkan diperbolehkannya melakukan dialog dan debat tersebut. (Mauqif Ahlis Sunnah, 2/597)

Apa yang telah kami sebutkan di atas menunjukkan bahwa dalam masalah berdebat, tidak dihukumi dengan sikap yang sama. Namun tergantung dari keadaan, tujuan, dan maksud dari perdebatan tersebut. An-Nawawi rahimahullahu berkata:

“Jika perdebatan tersebut dilakukan untuk menyatakan dan menegakkan al-haq, maka hal itu terpuji. Namun jika dengan tujuan menolak kebenaran atau berdebat tanpa ilmu, maka hal itu tercela. Dengan perincian inilah didudukkan nash-nash yang menyebutkan tentang boleh dan tercelanya berdebat.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu berkata: “Pertengkaran dan perdebatan dalam perkara agama terbagi menjadi dua:

Pertama: dilakukan dengan tujuan menetapkan kebenaran dan membantah kebatilan. Ini merupakan perkara yang terpuji. Adakalanya hukumnya wajib atau sunnah, sesuai keadaannya. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ÇÏúÚõ Åöáóì ÓóÈöíúáö ÑóÈøößó ÈöÇáúÍößúãóÉö æóÇáúãóæúÚöÙóÉö ÇáúÍóÓóäóÉö æóÌóÇÏöáúåõãú ÈöÇáøóÊöí åöíó ÃóÍúÓóäõ Åöäøó ÑóÈøóßó åõæó ÃóÚúáóãõ Èöãóäú Öóáøó Úóäú ÓóÈöíúáöåö æóåõæó ÃóÚúáóãõ ÈöÇáúãõåúÊóÏöíúäó

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Kedua: dilakukan dengan tujuan bersikap berlebih-lebihan, untuk membela diri, atau membela kebatilan. Ini adalah perkara yang buruk lagi terlarang, berdasarkan firman-Nya:

ãóÇ íõÌóÇÏöáõ Ýöí ÂíóÇÊö Çááåö ÅöáÇøó ÇáøóÐöíúäó ßóÝóÑõæÇ

“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.” (Ghafir: 4)

Dan firman-Nya:

æóÌóÇÏóáõæÇ ÈöÇáúÈóÇØöáö áöíõÏúÍöÖõæÇ Èöåö ÇáúÍóÞøó ÝóÃóÎóÐúÊõåõãú ÝóßóíúÝó ßóÇäó ÚöÞóÇÈö

“Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku adzab mereka. Maka betapa (pedihnya) adzab-Ku.” (Ghafir: 5) [Mauqif Ahlis Sunnah, 2/600-601]

Ibnu Baththah rahimahullahu berkata: “Jika ada seseorang bertanya: ‘Engkau telah memberi peringatan kepada kami dari melakukan pertengkaran, perdebatan, dan dialog (dengan ahlul bid’ah). Dan kami telah mengetahui bahwa inilah yang benar. Inilah jalan para ulama, jalan para sahabat, dan orang-orang yang berilmu dari kalangan kaum mukminin serta para ulama yang diberi penerangan jalan. Lalu, jika ada seseorang datang kepadaku bertanya tentang sesuatu berupa berbagai macam hawa nafsu yang nampak dan berbagai macam pendapat buruk yang menyebar, lalu dia berbicara dengan sesuatu darinya dan mengharapkan jawaban dariku; sedangkan aku termasuk orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan ilmu tentangnya serta pemahaman yang tajam dalam menyingkapnya. Apakah aku tinggalkan dia berbicara seenaknya dan tidak menjawabnya serta aku biarkan dia dengan bid’ahnya, dan saya tidak membantah pendapat jeleknya tersebut?’

Maka aku akan mengatakan kepadanya: Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu– bahwa orang yang seperti ini keadaannya (yang mau mendebatmu), yang engkau diuji dengannya, tidak lepas dari tiga keadaan:

(1) Adakalanya dia orang yang engkau telah mengetahui metode dan pendapatnya yang baik, serta kecintaannya untuk mendapatkan keselamatan dan selalu berusaha berjalan di atas jalan istiqamah. Namun dia sempat mendengar perkataan mereka yang para setan telah bercokol dalam hati-hati mereka, sehingga dia berbicara dengan berbagai jenis kekufuran melalui lisan-lisan mereka. Dan dia tidak mengetahui jalan keluar dari apa yang telah menimpanya tersebut, sehingga dia bertanya dengan pertanyaan seseorang yang meminta bimbingan, untuk mendapat solusi dari problem yang dihadapinya dan obat dari gangguan yang dialaminya. Dan engkau memandang bahwa dia akan taat dan tidak menyelisihinya.

Orang yang seperti ini, yang wajib atasmu adalah mengarahkan dan membimbingnya dari berbagai jeratan setan. Dan hendaklah engkau membimbingnya kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta atsar-atsar yang shahih dari ulama umat ini dari kalangan para sahabat dan tabi’in. Semua itu dilakukan dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Dan jauhilah sikap berlebih-lebihan terhadap apa yang engkau tidak ketahui, lalu hanya mengandalkan akal dan tenggelam dalam ilmu kalam. Karena sesungguhnya perbuatanmu tersebut adalah bid’ah. Jika engkau menghendaki sunnah, maka sesungguhnya keinginanmu mengikuti kebenaran namun dengan tidak mengikuti jalan kebenaran tersebut adalah batil. Dan engkau berbicara tentang As-Sunnah dengan cara bukan As-Sunnah adalah bid’ah. Jangan engkau mencari kesembuhan saudaramu dengan penyakit yang ada pada dirimu. Jangan engkau memperbaikinya dengan kerusakanmu, karena sesungguhnya orang yang menipu dirinya tidak bisa menasihati manusia. Dan siapa yang tidak ada kebaikan pada dirinya, maka tidak ada pula kebaikan untuk yang lainnya. Siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri taufiq, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meluruskan jalannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong dan membantunya.”

Abu Bakr Al-Ajurri rahimahullahu berkata:

“Jika seseorang berkata: ‘Jika seseorang yang telah diberi ilmu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu ada seseorang datang kepadanya bertanya tentang masalah agama, lalu mendebatnya; apakah menurutmu dia perlu mengajaknya berdialog agar sampai kepadanya hujjah dan membantah pemikirannya?’

Maka katakan kepadanya: ‘Inilah yang kita dilarang dari melakukannya, dan inilah yang diperingatkan oleh para imam kaum muslimin yang terdahulu.’

Jika ada yang bertanya: ‘Lalu apa yang harus kami lakukan?’

Maka katakan kepadanya: ‘Jika orang yang menanyakan permasalahannya kepadamu adalah orang yang mengharapkan bimbingan kepada al-haq dan bukan perdebatan, maka bimbinglah dia dengan cara yang terbaik dengan penjelasan. Bimbinglah dia dengan ilmu dari Al-Kitab dan As-Sunnah, perkataan para shahabat dan ucapan para imam kaum muslimin. Dan jika dia ingin mendebatmu, maka inilah yang dibenci oleh para ulama, dan berhati-hatilah engkau terhadap agamamu.’

Jika dia bertanya: ‘Apakah kita biarkan mereka berbicara dengan kebatilan dan kita mendiamkan mereka?’

Maka katakan kepadanya: ‘Diamnya engkau dari mereka dan engkau meninggalkan mereka dalam apa yang mereka bicarakan itu lebih besar pengaruhnya atas mereka daripada engkau berdebat dengannya. Itulah yang diucapkan oleh para ulama terdahulu dari ulama salafush shalih kaum muslimin.” (Lammud Durr, Jamal Al-Haritsi hal. 160-162)

Sumber:

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=512

Oleh: TEGAR DI ATAS SUNNAH | Agustus 19, 2011

Pengertian dosa besar

Pengertian Dosa Besar

Published: 1 Januari 2010

Tanya, “Bolehkah kita memberi penilaian pada sebuah maksiat yang dulu belum pernah ada sebagai dosa besar?

Jawab:

Tidaklah diragukan bahwa dosa itu ada dua macam, dosa besar dan dosa kecil.

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (QS an Nisa’:31).

Namun para ulama berbeda pendapat tentang jumlah dosa besar. Ada yang berpendapat tujuh, tujuh puluh dan tujuh ratus. Ada pula yang mengatakan bahwa dosa besar adalah semua perbuatan yang dilarang dalam syariat semua para nabi dan rasul.

Pendapat yang paling kuat tentang pengertian dosa besar adalah segala perbuatan yang pelakunya diancam dengan api neraka, laknat atau murka Allah di akherat atau mendapatkan hukuman had di dunia. Sebagian ulama menambahkan perbuatan yang nabi meniadakan iman dari pelakunya, atau nabi mengataan ‘bukan golongan kami’ atau nabi berlepas diri dari pelakunya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang menghunuskan pedang kepada kami, kaum muslimin, maka dia bukan golongan kami” (HR Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menipu kami maka dia bukan golongan kami” (HR Muslim).

Mencuri adalah perbuatan yang memiliki hukuman had yaitu potong tangan maka muncuri adalah dosa besar. Zina juga memiliki hukuman had sehingga termasuk dosa besar. Membunuh juga dosa besar. Namimah atau adu domba juga dosa besar karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang melakukan namimah itu tidak akan masuk surga” (HR Bukhari dan Muslim).

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)” (QS an Nisa’:10). Dalam ayat ini ada ancaman neraka bagi orang yang memakan harta anak yatim sehingga perbuatan ini hukumnya dosa besar.

[Disarikan dari Ajwibah Mufidah an Masa-il Adidah karya Syaikh Abdul Aziz ar Rajihi hal 1-4].

Sumber : http://www.ustadzaris.com

Older Posts »

Kategori